Sabtu, 03 Oktober 2009

mengirikan barang ke Kendari

hari ini sabtu 3 Oktober 2009 perjalananku ke tempat baru akan dimulai, dengan mengirimkan barang - barang keperluan pondok Modern Gontor Puntri 4 berupa : pakaian olahraga, wardun, kalender, buku TS dan beberapa barang ust. Hanif, perjalanan kami mulan jam 01.30 WIB setelah kami menjama sholat Asar dengan Dzuhur karna perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 5 jam.
pada awal perjalanan kami masih asik mengobrol, menceritakan pengalaman masing - masing dan menanyakan masalah - masalah yang ada di Kendari kepada sahabat kami ust. Qoyyim yang sudah mengabdi selama 1 tahun di sana, dia mengatakan bagaimana keadaan jalan yang ada di Kendari, jalanya kecil tapi dilalui banyak mobil - mobil besar yang menyebabkan jalan cepat rusak sama persis dengan yang terjadi di Jawa, selain itu dia juga menceritakan bagaimana keadaan pondok di Waktu malam yang suka diganggu oleh hewan liar seperti Babi Hutan dan Anjing Hutan ( iiiiiiiiiiiih jadi serem) tapi selain certita - cerita yang menyedihkan dan menakutkan banyak juga cerita yang lucu dan menghebohkan, seperti ceritanya tentang sekawanan sapi yang suka melintas kawasan pondok, memeras susu sapi dengan 2 tangan dan keindahan - keindahan pondok di pagi dan sore hari yang membuat aku ingin cepat - cepat sampai di sana.
perjalananpun tak terasa sudah memasuki daerah Surabaya yang mulai ramai, sedikit demi sedikit kami dicegat kemacetan yang sudah lumrah terjadi di perkotaan, tapi dengan kelihaianya ust. Qoyyim dalam menyetir mobil dia bisa mnyalip dengan cepatnya sehingga sebelum Maghrib kami sudah samapai di Bandara Juanda tempat kami mengcagokan barang - barang.
setelah ditimbang satu persatu sampailah kepada timbangan terakhir yaitu sekarung kalender yang beratnya 53 Kg setelah dijumlahkan total keseluruhan adalah 650 Kg setelah di kurangi diskon seberat 45 Kg, kami melihat bagian kasir menulis beban tersebut di sebuah mesin ketik kemudian dia mengalikanya dengan biayaa perkilo yaitu 6000 rupiah sehingga total biaya yang harus kami bayar adalah 6.105.000,00 rupiah.
Di perjalanan pulang kami berhenti di sebuah rumah makan yang diberi nama rumah makan Melati di daerah Krian, rumah makan tersebut berdampingn dengan sebuah masjid yang artistik dengan beberapa pilar dan hiasan, kamipun sholat Isya dengan menjama takhir sholat Magrib, pada pesanan pertama ust. Sigit dan Ust. Qoyyim memesan Sotto babat sedangkan aku sendiri memesan ayam bakar kesuakananku, setelah pelayan datang ternya soto babat sudah habis akhirnya ust. Sigit memesan ayam bakar sama denganku sedangkan ust. Qoyyim memesan soto kikil, hidangan ayam bakarpun datang kami melahapnya dengan semangat karna dari siang belum makan nasi, setelah makanan kami habis pesanan ust. Qoyyim belum juga datang sampai akhirnya beliau memanggil kembali pelayan tersebut, tampa kami sangka ternyata pelayan tersebut lupua (sungguh keterlaluan, gak tahu orang lagi lapar)

1 komentar:

the curious mengatakan...

judul blognya kepanjangan,,,