Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA
Pusaka, Selasa 22 November 2005
Gontor merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tertata sedemikian rupa, sehingga terbentuklah kehidupan yang demikian rupa, karena gontor mempunyai cirri-ciri khusus. Seseorang yang mempunyai anak dua dengan seseorang yang mempunyai anak sebelas mempunyai tata kehidupan yang berbeda. Anak seorang dosen dan anak seorang saudagar akan berbeda tata kehidupannya. Pondok pesantren salaf dengan pondok pesantren modern berbeda juga tata kehidupannya. Karena itu Gontor mempunyai beberapa cirri-ciri sebagai berikut:
1. Diwakafkan
Pondok ini diwakafkan pada tahun 1957 dan tangan saya ikut menandatangani piagam penyerahan wakaf tersebut, sampai saat ini ada dua orang yang masih hidup yang ikut menandatangani piagam wakaf tersebut, saya dan satu lagi adalah Amsil Bahtiar yang sekarang tinggal di Sumatra. Karena pondok ini diwakafkan maka keluarga dari pendiri pondok ini tidak boleh dan tidak berhak atas materiil pondok secara keseluruhan, dan tidak berhak menguasai yang lain, maka hal tersebut diatur oleh Badan Wakaf. Maka di pondok salaf beberapa unit usaha dikuasai atau dimiki oleh para keluarga kiayi, yayasannya, wartelnya, tokonya maka yang akan terjadi rebutan fasilitas dan akhirnya akan hancur. Maka Gontor tidak begitu, mengapa diwakafkan karena para pendiri pondok ini akan ada dari keluarga pak Sahal, dari keluarga pak Zarkasyi, dari keluarga pak Fananie akan memperebutkan fasilitas pondok ini sepeninggalan para pendirinya, maka keberadaan Badan Wakaf adalah sebagai penengah ini semua. Semua keluarga mendapatkan kedudukan yang sama dan tidak ada perbedaan, seperti anak pak Sahal, anak pak Zar, dan anak-anak yang lain akan mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan kita di Gontor tidak melihat kalian lulusan S1, S2, S3 ataupun professor sekalipun yang dilihat apa yang kalian bisa berikan untuk pondok. Nah inilah yang merupakan implementasi dari perwakafan yang merembet keseluruh sector kehidupan pondok.
2. Membedakan antara hak pribadi dan hak pondok
Di Gontor dibedakan antara hak pribadi dan hak pondok, hak pimpinan dan hak pondok, hak keluarga dan hak pondok semua itu dibedakan dan tidak boleh dicampuri. Rumah Pimpinan listriknya, biaya telefonnya merupakan kewajiban pribadi pimpinan yang harus dibayar oleh pimpinan secara pribadi bukan dari uang pondok. Perbedaan dari rumah keluarga pak Sahal dan rumah keluarga pak Zarkasyi dalam masalah lampunya, listriknya, megahnya, itu merupakan tanggung jawab dari keluarga masing-masing dan pondok tidak ikut campur dalam masalah itu.
Perkawinan adalah urusan pribadi bukan urusan pondok, paling pondok hanya membantu sedikit tidak secara keseluruhan, seperti airminumnya, berasnya, dan lain sebagainya.
3. Pondok Kaderiassi
Dari awal pondok ini mengajakarkan kepemimpinan, dari kamar, ayon, kelas, klub olahraga, mereka semenjak dini dilatih sebagai pemimpin mulai dari yang kecil sampai tingkat yang lebih tinggi lagi. Karena diatur, ditata sedemikian rupa maka inilah sebuah lembaga kaderisasi pemimpin dengan proses pimpin memimpin itu. Proses pimpin memimpin itulah yang membuat kita asyik dan menikmatinya. Panggung Gembira dan Drama Arena tanpa organisasi yang baik tidak akan menampilakan acara yang sedemikian rupa bagusnya, mulai dari mencari dana sebanyak itu, mengerahkan tenaga yang sedemikian itu, dengan koordinasi yang akurat, dengan apresiasi seni yang sedemikian rupa merupakan sebuah pagelaran yang sangat dashyat sekali apalagi kalau tidak hujan. Maka dari itu di Gontor banyak sekali kita adakan gerakan-gerakan kepemimpinan, mulai dari organisasi pelajar, kepramukaan dengan kemahnya semuanya itu ada proses kepemimpinan. Kepanitiaan Perkemahan memikirkan dananya, mencari tempat, persiapannya dan lain-lain, yang seperti ini jarang sekali ada diluar dan sampai mengeluarkan kemampuan puncak sampai lebih dari 60%.
4. Pondok ini terbuka (Open Management)
Karena pondok ini adalah pondok kaderisasi maka pondok ini harus terbuka, kalian adalah kader yang akan terjun ke masyarakat maka kalian harus menguasai seluruh permasalahan yang ada di pondok ini. Karena pendidikan adalah pemberian pengarahan-pengarahan kepada para kader-kader ummat. Dengan semua ini kamu dapat memahami pondok secara maknawiyan, lafdziyan, ruhiyan, aqliyan dan kamu dapat menyerap segala apa yang ada di pondok ini dalam hati kalian untuk selanjutkan kamu kembangkan dimasyarakat nanti. Maka kalau pengarahan dan sentuhan-sentuhan pondok yang sedemikian rupa menyentuh hati kalian maka kalian kalau pulang dari Gontor akan lebih memahami Gontor. Banyak orang atau alumni yang lebih memahami Gontor setelah ia pulang dari Gontor ini, maka adiknya dibawa kemari, anaknya, adik istrinya di sekolahkan ke Gontor. Maka karena asyiknya merasakan kehidupan di Gontor maka ia menganjurkan keluarganya untuk sekolah ke Gontor, maka siar Gontor bukan dari televisi, majalah dan dari media massa lainnya akan tetapi para calon santri lebih banyak mengenal Gontor dari keluarganya yang sekolah di Gontor. Dengan itu semua para calon santri mendaftarkan untuk sekolah ke Gontor ribuan, pada tahun ini hampir 3000 calon santri tiap tahunnya.
Dari keterbukaan ini banyak orang mempelajari Gontor, dan akhirnya memahami Gontor walaupun tidak secara keseluruhan. Maka pimpinan pondok dengan berbagai macam cara harus menyampaikan visi, misi, nilai dan sistem pondok pesantren kepada guru, santri, wali santri, keluarga, masyarakat, tokoh masyarakat, alumni, pemerintah.
5. Mementingkan Pendidikan dari pada Pengajaran
Pendidikan dari berbagai kegiatan yang mendidik di kelas, kamar, asrama, organisasi, ketika kelas 6 yang sedemikian rupa maka terjadilah Ukhuwah Islamiyah. Kegiatan-kegiatan inilah yang mendidik seorang pribadi santri.
6. Metode Pengajaran Modern
Kita tidak mengajarkan kepada para santri dengan metode terjemahan, utawi. Dalam pengajaran bahasa Arab kita mengajarkan mereka untuk membaca dengan baik, menulis dengan baik, memahami dengan baik sehingga mereka dapat memahami pelajarannya yang mayoritas berbahasa Arab.
7. Pondok ini adalah Pondok Modern
Karena pondok ini adalah pondok modern banyak kegiatan-kegiatan pondok ini yang harus sistimatik, efektif, efisien, progesif, homogenizing menuju kedepan tidak hanya mengikuti apa yang telah dilakukan para pendahulu kita tanpa adanya pembaharuan dan perbaikan yang disesuaikan dengan zaman. Maka pondok ini akan berkembang, dan tahun ini aja belum selesai lima tahun kedepan pondok ini tentu akan berkembang, belum tentu sama seperti sekarang, kegiatannya, disiplinya, dan aturannya.
Ciri-Ciri Pondok Modern Darussalam Gontor
Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA
Pusaka, Selasa 22 November 2005
Gontor merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tertata sedemikian rupa, sehingga terbentuklah kehidupan yang demikian rupa, karena gontor mempunyai cirri-ciri khusus. Seseorang yang mempunyai anak dua dengan seseorang yang mempunyai anak sebelas mempunyai tata kehidupan yang berbeda. Anak seorang dosen dan anak seorang saudagar akan berbeda tata kehidupannya. Pondok pesantren salaf dengan pondok pesantren modern berbeda juga tata kehidupannya. Karena itu Gontor mempunyai beberapa cirri-ciri sebagai berikut:
1. Diwakafkan
Pondok ini diwakafkan pada tahun 1957 dan tangan saya ikut menandatangani piagam penyerahan wakaf tersebut, sampai saat ini ada dua orang yang masih hidup yang ikut menandatangani piagam wakaf tersebut, saya dan satu lagi adalah Amsil Bahtiar yang sekarang tinggal di Sumatra. Karena pondok ini diwakafkan maka keluarga dari pendiri pondok ini tidak boleh dan tidak berhak atas materiil pondok secara keseluruhan, dan tidak berhak menguasai yang lain, maka hal tersebut diatur oleh Badan Wakaf. Maka di pondok salaf beberapa unit usaha dikuasai atau dimiki oleh para keluarga kiayi, yayasannya, wartelnya, tokonya maka yang akan terjadi rebutan fasilitas dan akhirnya akan hancur. Maka Gontor tidak begitu, mengapa diwakafkan karena para pendiri pondok ini akan ada dari keluarga pak Sahal, dari keluarga pak Zarkasyi, dari keluarga pak Fananie akan memperebutkan fasilitas pondok ini sepeninggalan para pendirinya, maka keberadaan Badan Wakaf adalah sebagai penengah ini semua. Semua keluarga mendapatkan kedudukan yang sama dan tidak ada perbedaan, seperti anak pak Sahal, anak pak Zar, dan anak-anak yang lain akan mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan kita di Gontor tidak melihat kalian lulusan S1, S2, S3 ataupun professor sekalipun yang dilihat apa yang kalian bisa berikan untuk pondok. Nah inilah yang merupakan implementasi dari perwakafan yang merembet keseluruh sector kehidupan pondok.
2. Membedakan antara hak pribadi dan hak pondok
Di Gontor dibedakan antara hak pribadi dan hak pondok, hak pimpinan dan hak pondok, hak keluarga dan hak pondok semua itu dibedakan dan tidak boleh dicampuri. Rumah Pimpinan listriknya, biaya telefonnya merupakan kewajiban pribadi pimpinan yang harus dibayar oleh pimpinan secara pribadi bukan dari uang pondok. Perbedaan dari rumah keluarga pak Sahal dan rumah keluarga pak Zarkasyi dalam masalah lampunya, listriknya, megahnya, itu merupakan tanggung jawab dari keluarga masing-masing dan pondok tidak ikut campur dalam masalah itu.
Perkawinan adalah urusan pribadi bukan urusan pondok, paling pondok hanya membantu sedikit tidak secara keseluruhan, seperti airminumnya, berasnya, dan lain sebagainya.
3. Pondok Kaderiassi
Dari awal pondok ini mengajakarkan kepemimpinan, dari kamar, ayon, kelas, klub olahraga, mereka semenjak dini dilatih sebagai pemimpin mulai dari yang kecil sampai tingkat yang lebih tinggi lagi. Karena diatur, ditata sedemikian rupa maka inilah sebuah lembaga kaderisasi pemimpin dengan proses pimpin memimpin itu. Proses pimpin memimpin itulah yang membuat kita asyik dan menikmatinya. Panggung Gembira dan Drama Arena tanpa organisasi yang baik tidak akan menampilakan acara yang sedemikian rupa bagusnya, mulai dari mencari dana sebanyak itu, mengerahkan tenaga yang sedemikian itu, dengan koordinasi yang akurat, dengan apresiasi seni yang sedemikian rupa merupakan sebuah pagelaran yang sangat dashyat sekali apalagi kalau tidak hujan. Maka dari itu di Gontor banyak sekali kita adakan gerakan-gerakan kepemimpinan, mulai dari organisasi pelajar, kepramukaan dengan kemahnya semuanya itu ada proses kepemimpinan. Kepanitiaan Perkemahan memikirkan dananya, mencari tempat, persiapannya dan lain-lain, yang seperti ini jarang sekali ada diluar dan sampai mengeluarkan kemampuan puncak sampai lebih dari 60%.
4. Pondok ini terbuka (Open Management)
Karena pondok ini adalah pondok kaderisasi maka pondok ini harus terbuka, kalian adalah kader yang akan terjun ke masyarakat maka kalian harus menguasai seluruh permasalahan yang ada di pondok ini. Karena pendidikan adalah pemberian pengarahan-pengarahan kepada para kader-kader ummat. Dengan semua ini kamu dapat memahami pondok secara maknawiyan, lafdziyan, ruhiyan, aqliyan dan kamu dapat menyerap segala apa yang ada di pondok ini dalam hati kalian untuk selanjutkan kamu kembangkan dimasyarakat nanti. Maka kalau pengarahan dan sentuhan-sentuhan pondok yang sedemikian rupa menyentuh hati kalian maka kalian kalau pulang dari Gontor akan lebih memahami Gontor. Banyak orang atau alumni yang lebih memahami Gontor setelah ia pulang dari Gontor ini, maka adiknya dibawa kemari, anaknya, adik istrinya di sekolahkan ke Gontor. Maka karena asyiknya merasakan kehidupan di Gontor maka ia menganjurkan keluarganya untuk sekolah ke Gontor, maka siar Gontor bukan dari televisi, majalah dan dari media massa lainnya akan tetapi para calon santri lebih banyak mengenal Gontor dari keluarganya yang sekolah di Gontor. Dengan itu semua para calon santri mendaftarkan untuk sekolah ke Gontor ribuan, pada tahun ini hampir 3000 calon santri tiap tahunnya.
Dari keterbukaan ini banyak orang mempelajari Gontor, dan akhirnya memahami Gontor walaupun tidak secara keseluruhan. Maka pimpinan pondok dengan berbagai macam cara harus menyampaikan visi, misi, nilai dan sistem pondok pesantren kepada guru, santri, wali santri, keluarga, masyarakat, tokoh masyarakat, alumni, pemerintah.
5. Mementingkan Pendidikan dari pada Pengajaran
Pendidikan dari berbagai kegiatan yang mendidik di kelas, kamar, asrama, organisasi, ketika kelas 6 yang sedemikian rupa maka terjadilah Ukhuwah Islamiyah. Kegiatan-kegiatan inilah yang mendidik seorang pribadi santri.
6. Metode Pengajaran Modern
Kita tidak mengajarkan kepada para santri dengan metode terjemahan, utawi. Dalam pengajaran bahasa Arab kita mengajarkan mereka untuk membaca dengan baik, menulis dengan baik, memahami dengan baik sehingga mereka dapat memahami pelajarannya yang mayoritas berbahasa Arab.
7. Pondok ini adalah Pondok Modern
Karena pondok ini adalah pondok modern banyak kegiatan-kegiatan pondok ini yang harus sistimatik, efektif, efisien, progesif, homogenizing menuju kedepan tidak hanya mengikuti apa yang telah dilakukan para pendahulu kita tanpa adanya pembaharuan dan perbaikan yang disesuaikan dengan zaman. Maka pondok ini akan berkembang, dan tahun ini aja belum selesai lima tahun kedepan pondok ini tentu akan berkembang, belum tentu sama seperti sekarang, kegiatannya, disiplinya, dan aturannya.
Selasa, 21 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar